119 Tahun Bung Hatta (12 Agustus 1902 - 12 Agustus 2021)

Bung Hatta Tak Punya Deposito, Tapi Ada 30 ribu Buku di Perpustakaannya.

    

Enam bulan sekali disemprot anti hama. Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan sejumlah penerbit rajin mengirimkan buku baru. Tapi tak semua pengunjung perpustakaan mau membacanya.

Bung Hatta kecil suka menabung. Uang sakunya yang 1 gonang ( 25 sen ), disimpan untuk membeli buku. Ia pun sangat menyayangi buku-bukunya. Bila temannya meminjam, dan kembali dalam keadaan kotor, atau ada halaman yang terlipat, Hatta akan marah sekali.

Sampai akhir hayatnya, pertengahan Maret ini, cinta buku yang seperti itu tak berubah. “Mungkin orang tak percaya, ayah tak punya deposito,” cerita Gemalla Hatta, putri kedua Bung Hatta. “Tapi ada sekitar 30 ribu buku di perpustakaanya”.            

Bung Hatta selama hidupnya memang amat mencintai buku, bahkan ada yang menulis bahwa ada tiga istri Hatta, yang pertama buku, yang kedua buku dan yang ketiga adalah Rahmi. Bahkan Basyariah Sanusi Galib, adik bungsu Hatta, punya kenangan tentang hubungan kakaknya dan buku: “Buku itulah pacar dia”.

Tetapi Hatta sebenarnya bukanlah pacar yang pencemburu. Ia bahkan suka sekali menyumbangkan buku-bukunya yang kebetulan jumlahnya lebih dari satu, meskipun kesetiannya terhadap “pacarnya taklah diragukan, ketika dibuang ke Digul, dibawanya serta 16 peti buku.

Kegemaran Hatta yang utama adalah membaca. Boleh dikatakan, ia tak dapat dipisahkan dari bahan bacaan. Karena itu sangat menghargai buku. Buku-buku itu dipeliharanya dengan baik. Di hari tuanya ia mempunyai perpustakaan pribadi. Jumlah buku lebih dari 30.000 buah. Sebagian dari uang belanjanya di pakai untuk membeli buku.

Sebuah peristiwa terjadi Banda Naira. Waktu itu Hatta dan Syahrir masih tinggal serumah. Syahrir mengambil beberapa anak Banda sebagai anak angkatnya. Suatu kali, anak-anak itu bermain di meja kerja. Air yang ada di meja kerja itu tumpah. Buku Hatta yang terletak di atas meja itu basah kena air. Buku itu sedang di pinjam oleh Syahrir. Hatta marah kepada anak-anak itu. Syahrir agak tersinggung, walaupun anak-anak itu dimarahinya pula.

Waktu Hatta kawin dengan Rahmi, mas kawinnya ialah sebuah buku. Buku itu berjudul Alam Pikiran Yunani, karangan Hatta sendiri. Waktu itu ibunya merasa malu, karena masih mampu menyediakan mas kawin yang lebih mahal dan berharga daripada sebuah buku. Waktu itu mas kawin ialah uang perak atau uang ringgit yang terbuat dari emas. Tetapi Hatta tidak mau menuruti keinginan ibunya. Ia tetap memberikan buku sebagai mas kawinnya.

Anak-anaknya diajarkan supaya mencintai buku. Sejak kecil mereka sudah dibiasakan membaca, dengan memberikan buku yang sesuai dengan usia mereka. Waktu Meutia merayakan ulang tahunnya yang ke-30, Hatta memberikan hadiah sebuah buku yang berjudul History of Java, karangan Rafles, terbitan 1817.

Bukan pakaian atau perhiasan yang di hadiahkan melainkan sebuah buku karangan orang yang pernah menjadi gubernur Jendral Inggris di Indonesia.

Demikian juga halnya dengan menyambut kelahiran cucu pertamanya, Hatta juga menyediakan beberapa buah buku. Buku-buku itu diberikannya pada Meutia dan dimintanya supaya disimpan baik-baik. Kelak bila cucu itu sudah bisa membaca, barulah diberikan padanya. Buku-buku yang di sediakan tersebut adalah buku cerita anak-anak. Ada pula sebuah kamus, yakni Kamus Bahasa Indonesia karangan Purwadarminta.

Cara Bung Hatta Membaca Buku

Dalam kegiatan sehari-hari, Bung Hatta sudah punya jadwal yang tetap untuk membaca buku. Pagi hari beliau menyediakan waktu kurang lebih satu jam khusus untuk membaca buku di perpustakaan pribadinya. Sewaktu beliau menjabat Wakil Presiden, beliau membaca selama satu jam sebelum berangkat ke kantor.

Setelah mundur dari jabatan, Bung Hatta kadang-kadang juga membaca sampai dua-tiga jam lamanya pada pagi hari bila tidak ada kesibukan lain. Malam hari sudah dapat dipastikan pula, sebelum tidur beliau membaca sekurang-kurangnya satu jam. Dan waktu Bung Hatta mengajar, pada waktu tertentu disisihkan pula waktu pada malam hari untuk mempersiapkan bahan-bahan kuliah.

Dari kebiasaan Bung Hatta membaca, terlihat kecintaan beliau terhadap buku dan ilmu pengetahuan, kemana saja beliau pergi selalu tidak ketinggalan buku di dalam tasnya. Pada waktu membaca, pikiran beliau seluruhnya terkonsentrasi pada buku yang sedang dibacanya. Beliau duduk tertib di mejanya, atau kadang-kadang membaca sambil berdiri di depan rak bila hanya ingin membaca sepintas saja.

Di sebelah buku yang dibacanya selalu tersedia pensil, pena dan kertas kecil untuk catatan. Bung Hatta selalu mencatat hal-hal baru yang di jumpainya di dalam buku. Karena buku-buku beliau banyak yang berbahasa asing, mungkin itu pulalah Bung Hatta menguasai beberapa bahasa asing, antara lain bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis.

Mahasiswa Bung Hatta dan Buku

Dalam tahun 1950-an, Bung Hatta mengajar di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sosial Politik UGM, yang berkedudukan sebagai dosen luar biasa. Dalam masa-masa mengajar, selama seminggu beliau berturut-turut setiap pagi beliau telah pergi mengajar. Dan sudah menjadi kebiasaan beliau bila malam hari meluangkan waktu beberapa jam untuk membaca buku dan mempersiapkan bahan-bahan yang kan di kuliahkan esok harinya. Semua bahan kuliah disiapkan dalam bentuk catatan-catatan kecil.

Mahasiswa umumnya sangat puas dan senang dengan materi dan cara Bung Hatta menyampaikan kuliah. Kuliah-kuliah dengan Bung Hatta tidak membosankan, selain karena gaya bahasanya menarik, tetapi juga selalu ada materi baru yang di berikan Bung Hatta.

Pengalaman I.Wangsa Widjaja, adalah ketika ada sebagian mahasiswa yang datang ke rumah Bung Hatta, biasanya mereka mencari informasi tentang ujian semester. Mereka datang untuk menanyakan kira-kira soal ujian  atau rupa-rupa hal yang berkaiatan dengan kuliah dari Bung Hatta. Sebenarnya para mahasiswa ingin menemui Bung Hatta.

Bahkan I.Wangsa ingat betul ada seseorang mahasiswa yang datang menanyakan bahan-bahan yang akan di ujikan Bung Hatta, hal-hal yang perlu di pelajari dan hal pokok yang menjadi pusat perhatian Bung Hatta.

Lantas I.Wangsa menjawab;”Pelajari saja dan baca baik-baik buku-buku yang telah di tunjuk Bung Hatta. Saudara sendiri kan sudah tahu buku-buku apa itu. Bila saudara baca dan dapat menguasai sebagian besar masalah yang dibahas di dalamnya, maka kemungkinan besar saudara akan dapat menjawab soal-soal dari Bung Hatta dengan baik.

Sebenarnya Bung Hatta mengetahui persis perangai mahasiswanya itu. Akan tetapi tak berkomentar apapun dari Bung Hatta, selain tersenyum dan mengingatkan I.Wangsa agar tetap mendorong mahasiswa itu membaca banyak buku dan menguasai bacaan asing. 

Bung Hatta selalu menampilkan sikap yang simpatik terhadap mahasiswanya, hampir tak pernah beliau marah, semua mahasiswa diperlakukan sama tanpa kecuali. Akan tetapi satu hal, siapa yang melanggar disiplin waktu pasti akan kena marah, dan tentu saja ini hanya berlaku bagi mahasiswa yang terlambat datang ketika beliau memberi kuliah.

119 Tahun Bung Hatta

Seandainya Mohammad Hatta masih hidup hari ini, saya tak tahu apa yang akan di katakannya tentang korupsi saat ini. Tokoh yang lahir 119 tahun lalu adalah seorang dengan integritas yang amat tinggi. Dia jujur, anti korupsi, hemat, santun dan hidup serba pas-pasan, intergritas beliau itulah yang dijadikan sebagai kata-kata cara baik Bung Hatta yang menghiasi berbagai spanduk dan stiker.

Betapa indahnya kata-kata di stiker dan spanduk tersebut yang membawa nama Bung Hatta, apakah dari perguruan tinggi, lembaga-lembaga, kepanitiaan dan seterusnya. Apabila orang yang membuat stiker atau spanduk tersebut memang meneladani cara Baik Bung Hatta, tentu mereka akan mengenal lebih jauh Bung Hatta dengan kesantunannya, kejujuran dan hemat, namun Bung Hatta juga tekun, teguh pendirian, sangat membela kepentingan rakyat.

Seperti yang pernah di tuliskan di majalah Tempo edisi khusus beberapa waktu lalu: “Tak lama setelah mundur dari pemerintahan di tahun 1957, Hatta mulai merasakan sulitnya hidup sebagai orang biasa. Ia kesulitan membayar listrik, air, gas dan juga pajak mobil yang dibelinya dengan subsidi pemerintah”. Yang menggenaskan ia mengirim surat kepada Dirjen Pos, Telegraf dan Telepon: “Terserahlah kalau telepon mau di cabut”.

Kalau kita lihat masa sekarang, betapa ironisnya, sosok seperti Bung Hatta yang menjabat sebagai wakil presiden tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya, sebagai orang nomor dua di negara ini zaman itu, tentu cukup banyak fasilitas negara dan kemudahan yang didapatnya. Tapi kenyataannya, sejarah mencatat Bung Hatta tetap hidup sederhana dari uang pensiunan.

Seandainya Hatta masih hidup, saat ini kita tidak tahu bagaimana ia bicara tentang korupsi di negeri ini, mungkin Hatta setiap hari akan menulis di koran sebagai pelampiasan kekesalannya.

 

Catatan: tulisan ini adalah potongan dari tulisan yang ditulis, 14 Agustus 2002 (100 tahun Bung Hatta) dengan judul : Bung Hatta, “Si Manusia Buku” Yang Tak Punya Buku Deposito

 

                                                                                                            Padang, 11 Agustus 2021

Indrawadi,S.Pi

Tendik Universitas Bung Hatta

 

Sumber Bacaan

  1. Amrin Imran, Mohammad Hatta, Pejuang, Proklamator, Pemimpin, Manusia Biasa, Mutiara Jakarta, 1981.
  2. Wangsa Widjaja, Mengenang Bung Hatta, Gunung Agung, Jakarta, 2002
  3. Muhammad Irfan, Cara Baik Terhadap Buku Hatta,”Manusia Pustaka”, Mimbar Minang, 12 Agustus 2002.
  4. Muhammad Chatib Basri, Hatta, Korupsi, dan Peran Negara, Koran Tempo Edisi Khusus, 100 tahun Bung Hatta, Agustus 2002.
  5. --------------, Mohammad Hatta, Memoir, Reprint Yayasan Hatta, 2002.
  6. --------------, Bung Hatta Kita Dalam Pandangan Masyarakat, Yayasan Idayu, 1980.

 

Copyright © Universitas Bung Hatta